- Sejarah Awal
Sejak awal tahun 1998
Indonesia menghadapi krisis multidimensional, sampai kepada berakhirnya
Pemerintahan Orde Baru, penyerahan tongkat kepemimpinan nasional dari
Presiden RI Kedua Jenderal Besar Soeharto kepada Prof. B.J. Habibie yang
dilantik menjadi Presiden RI ketiga.
Pada massa Pemerintahan
Presiden RI B.J. Habibie, diselenggarakanlah pemilihan Presiden oleh MPR
RI yang menjatuhkan pilihan suara terbanyak kepada Abdulrahman Wahid
atau yang lebih akrab dipanggil GUS DUR sebagai Presiden RI keempat pada
pertengahan tahun 1999.
Melihat kondisi bangsa
Indonesia pada saat itu dan banyaknya kejadian peristiwa Tawuran dan
Anarkis serta masuk informasi kepada beliau bahwa banyak masyarakat
terlibat Peredaran Narkoba dan menyulut terjadinya Tawuran sehingga
sering menyampaikan di beberapa kali pertemuan bahwa perlu segera
ditanggulangi.
Walaupun secara tidak langsung
perintah itu kepada KAPOLRI yang pada saat itu dijabat oleh Jenderal
Polisi Drs. Rusmanhadi, SH, tetapi Staff Asops KAPOLRI yang dijabat oleh
Mayor Jenderal Polisi Drs. S. Bimantoro sangat terusik dengan berita
bahwa Peredaran Narkoba dan peristiwa Tawuran – Anarkis telah dapat
menghambat Pembangunan Nasional. Sehingga
dilakukanlah Analisa dan Evaluasi terhadap gangguan Kamtibmas di
seluruh Indonesia dengan meminta data dari semua Polda.
Dalam kesimpulan Analisa
dan Evaluasi tersebut yang dibuat pada pertengahan November 1999 yang
pada pokoknya menyebutkan bahwa "Lima sampai dengan 10 tahun mendatang
Indonesia akan dilanda bahaya Narkoba dan Tawuran – Anarkis". Untuk
menjawab dan mengatasi hasil kesimpulan Analisa dan Evaluasi tersebut
maka KAPOLRI berkenan melakukan suatu acara Nasional dengan Acara
"Pencanangan Gerakan Nasional Anti Narkoba dan Tawuran" yang disingkat
GEPENTA, dengan Sprint KAPOLRI No. Pol. : Sprin/4140/XII/1999 tanggal 2
Desember 1999. Maka dalam waktu yang sangat mendadak dan singkat
perencanaannya pada tanggal 8 Desember 1999, bertempat di lapangan
Tennis Indoor Senayan dicanangkan KAPOLRI Jenderal Polisi Drs.
Rusmanhadi, SH, “ Gerakan Anti Narkoba dan Tawuran “.
Acara ini dihadiri oleh semua
unsur TNI dan POLRI, Ibu-Ibu Bhayangkari, Persit, Yalasenastri, Pia
Ardhiagarini, dan Kowani serta semua Organisasi Pemuda, KNPI, Pelajar
SMP, SMA dan Mahasiswa di Jakarta.
- Pembentukan Gepenta
Setelah Pencanangan Gerakan
Anti Narkoba dan Tawuran disemua Polda meningkatkan Operasi Peredaran
Narkoba dan Mencegah Tawuran Anarkis. Kemudian berkumpullah beberapa
orang merumuskan bahwa agar Gerakan Anti Narkoba dan Tawuran "GEPENTA"
yang dicanangkan KAPOLRI itu tidak sia-sia maka perlu dibentuk dan
dideklarasikan GEPENTA menjadi Ormas.
Setelah dideklarasikan
menjadi Ormas, terdaftar di Depdagri Ditjen Kesbangpol, sekarang telah
terbentuk di semua Provinsi, dan hampir disemua Kotamadya dan Kabupaten.
Namun berhubung karena sumber
dana terbatas dan hanya dibebankan kepada semua anggota dan anggota
juga mempunyai kesulitan dalam pendanaan sehingga GEPENTA tampil dengan
kegiatan-kegiatan pencegahan dan pemberantasan melalui memberikan
informasi kepada Kepolisian setempat dimana ada warga GEPENTA.
Musyawarah Nasional telah
diselenggarakan 2 (dua) kali dan 1 (satu) kali Munaslub pada tahun 2006
dan Sarasehan Nasional di Singaraja Bali, dan 1 (satu) kali Rapimnas
pada tahun 2008 di Gedung Seba Guna Senayan Jakarta.
Dalam rangka
mensosialisasikan bahaya Narkoba, Tawuran dan Anarkis telah dibentuk
GEPENTA Trio dan Band GEPENTA dengan menciptakan lagu-lagu bernafaskan
Anti Narkoba, Cegah Tawuran Anarkis dengan meluncurkan Album GEPENTA.
Lagu Haramkan Narkoba, Cegah Tawuran Anarkis menjadi lagu Nada Sambung
Pribadi di Handphone warga GEPENTA menjadi kebanggaannya. Dikandung
maksud dari NSP inilah masukan dana untuk operasional GEPENTA, namun
belum maksimal, untuk itu diharapkan agar semua warga GEPENTA dan
tokoh-tokoh nasional serta menginginkan Negara ini bebas dari bahaya
Narkoba, Tawuran dan Anarkis dihimbau agar menggunakan NSP di HPnya lagu
Haramkan Narkoba, Cegah Tawuran Anarkis.
Beberapa kegiatan yang sangat menonjol adalah :
- Pengukuhan DPP dan DPK dibeberapa tempat dan juga ada yang dilakukan di DPN.
- Seminar Bahaya Narkoba, Tawuran dan Anarkis.
- Ceramah-ceramah di sekolah-sekolah dan kampus-kampus.
- Pembentukan GEPENTA unit Perguruan Tinggi dan Universitas.
- Bekerjasama dengan Rehabilitasi Metadon di Puskesmas-Puskesmas.
- Melakukan unjuk rasa mengumandangkan Eksekusi Mati Terpidana Mati Narkoba.
- Kantor di Jalan Sultan Iskandar Muda No. 31 bantuan dari Kader GEPENTA, Bapak H. Darmo Supono.










